Saturday, August 13, 2016

Batik Tulis

BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Batik merupakan salah satu ciri khas kebudayaan Indonesia yang telah menjadi warisan peradaban dunia. Jenis corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khas budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisional Khususnya untuk Batik Tulis UKM Kalang Kusuma yang ada di kota Tulungagung Jawa Timur.
Menurut bahasa Jawa kata batik di ambil dari kata “ambatik” yaitu kata “amba” yang berarti menulis dan akhiran “tik” yang berarti titik kecil, tetesan, atau membuat titik. Jadi batik mempunyai arti menulis atau melukis titik. Tetapi secara essensial, batik di artikan sebagai sebuah proses atau teknik menahan warna dengan menggunakan lilin malam. Artinya, batik adalah sebuah proses menahan warna dengan memakai lilin malam secara berulang-ulang diatas kain.

B.     Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang Filosofi  batik, terutama tentang batik tulis, teknik, cara pembuatan maupun alat dan bahan pembuatan batik tradisional Indonesia sehingga batik indonesia tetap lestari di lingkungan masyarakat.



BAB II
PEMBAHASAN
  1. Filosofi Batik Tulis Kalang Kusuma
Filosofi batik di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.
Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.
Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tingi, tengger, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Jaman Majapahit
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.
Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret (terletak di Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung). Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.
Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tingi dan sebagainya.
Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.
Ciri khas dari batik Kalangbret (Tulungagung) dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Di Tulungagung yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan di desa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.
Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat didaerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.
Didalam berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri kearah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kiyai yang statusnya Uirun-temurun.Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu.
Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik setra sejak dahulu kala terkenal juga didaerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-XIX. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala yang menetap didaerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.
Adapun filosofi perusahaan adalah melestarikan budaya Indonesia melalui pakaian (batik, ikat, lurit, dan lainnya). Batik Tulis Kalang Kusuma yang beralamat Jalan Wilis IV/27 Kalangbret Tulungagung – Jawa Timur.
  1. Proses Pembuat Batik Tulis Kalang Kusuma
Teknik             :
Kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
Cara pembuatan          :          
a.       Siapkan kain, buat motif diatas kain dengan menggunakan pensil
b.      Setelah motif selesai dibuat, sampirkan kain pada gawangan
c.       Nyalakan kompor/anglo. Taruh malam/lilin ke dalam wajan dan panaskan wajan dengan api kecil sampai malam mencair sempurna. Biarkan api tetap menyala kecil
d.      Mulailah membatik dengan cara ambil sedikit malam cair dengan menggunakan canting, tiup-tiup sebentar biar tidak terlalu panas, kemudian goreskan canting dengan mengikuti motif yang telah ada. Hati-hati jangan sampai malam yang cair menetes diatas permukaan kain karena akan mempengarufi hasil motif batik
e.       Setelah semua motif tertutup malam, maka proses selanjutnya adalah proses pewarnaan
f.       Siapkan bahan pewarna di dalam ember, kemudian celupkan kainnya ke dalam larutan pewarna dengan menggunakan kuas, ulangi sampai beberapa kali.
g.      Tahap selanjutnya adalah proses penghilangan lilin batik dengan cara pengerakan dan melarod
h.      Tahap terakhir dari proses pembuatan batik ini adalah proses pencucian dan penjemuran.
Alat dan bahan           :
a.       Canting --> canting adalah alat untuk membatik. Biasanya terbuat dari bahan tembaga yang ujungnya menyerupai paruh burung
b.      Gawangan --> adalah tempat untuk meletakkan kain yang akan dibatik. Gawangan dapat terbuat dari kayu atau bambu
c.       Wajan --> berupa wajan kecil untuk mencairkan malam atau lilin. Wajan ini bisa terbuat dari tembaga atau tanah liat
d.      Anglo / kompor kecil--> digunakan untuk memanaskan wajan
e.       Malam/lilin --> malam batik terbuat dari campuran berbagai jenis bahan yang berupa gondorukem, lemak minyak kelapa, dan parafin
f.       Bahan pewarna --> biasa juga disebut sebagai wedel atau tom

  1. Produk Batik Tulis Kalang Kusuma



Produk batik tulis Kalang Kusuma berupa kain saja belum ada produk berupa baju. Motif yang dibuat adalah permintaan konsumen.



BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
a.       Produk Batik Tulis Kalang Kusuma berupa kain saja.
b.      Batik Tulis Kalang Kusuma merupakan UKM milik keluarga yang sekarang dipegang oleh bapak Shodiq.
c.       Batik Tulis Kalang Kusuma Batik sekarang sudah tidak dipandang sebelah mata, karena sekarang sudah banyak orang-orang yang menggunakan batik untuk kehidupan sehari-hari. Batik Tulis dipasarkan di beberapa kota besar.
d.      Motif Batik Tulis Kalang Kusuma berdasarkan permintaan konsumen.
e.       Penataan pameran Batik Tulis Kalang Kusuma termasuk penataan terbagus.
f.        Modal yang digunakan oleh Batik Tulis Kalang Kusuma adalah modal keluarga/pribadi.

  1. Saran
a.       Harus selalu menggadakan pameran didalam kota maupun diluar kota lebih sering lagi.
b.      Penataan pameran Batik Tulis Kalang Kusuma Batik perlu ditingkatkan lagi agar konsumen lebih tertarik.
c.       Menggunakan ambassador untuk produk yang diproduksi agar menarik perhatian konsumen.
d.      Batik Tulis Kalang Kusuma harus tetap dipertahankan atau bahkan ditingkatkan agar dapat lebih banyak menarik minat konsumen untuk membeli dan menggunakan batik.



Daftar Pustaka


Share:

Teori Administrasi dan organisasi

1.      TEORI MOTIVASI
Motivasi dapat diartikan sebagai faktor pendorong yang berasal dalam diri manusia, yang akan mempengaruhi cara bertindak seseorang. Dengan demikian, motivasi kerja akan berpengaruh terhadap performansi pekerja

a)   Teori dua factor (Herzberg’s Two Factors Teory)
Teori Motivasi Dua Faktor atau Teori Motivasi Kesehatan atau Faktor Higienis. Menurut teori ini motivasi yang ideal yang dapat merangsang usaha adalah peluang untuk melaksanakan tugas yang lebih membutuhkan keahlian dan peluang untuk mengembangkan kemampuan. Ada 3 hal penting berdasarkan penelitian Herzberg yang harus diperhatikan dalam motivasi bawahan yaitu :
1.      Hal-hal yang mendorong karyawan adalah pekerjaan yang menantang yang mencakup perasaan untuk berprestasi, bertanggung jawab, kemajuan dapat menikmati pekerjaan itu sendiridan adanya pengakuan atas semuanya itu.
2.      Hal-hal yang mengecewakan karyawan adalah terutama faktor yang bersifat embel-embel saja pada pekerjaan, peraturan pekerjaan, penerangan, istirahat, sebutan jabatan, hak, gaji, tunjangan, dan lain-lain.
3.      Karyawan kecewa, jika peluang untuk berprestasi terbatas. Mereka akan menjadi sensitif pada lingkungannya serta mulai mencari-cari kesalahan.



Herzberg menyatakan bahwa orang dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor yang merupakan kebutuhan, yaitu :
a)   Maintenance Factors
Adalah faktor-faktor pemeliharaan yang berhubungan dengan hakikat manusia yang ingin memperoleh ketentraman badaniah. Kebutuhan kesehatan ini merupakan kebutuhan yang berlangsung terus-menerus, karena kebutuhan ini akan kembali pada titik nol setelah dipenuhi.
b)   Motivation Factors
Adalah faktor motivator yang menyangkut kebutuhan psikologis seseorang yaitu perasaan sempurna dalam melakukan pekerjaan. Factor motivasi ini berhubungan dengan penghargaan terhadap pribadi yang berkaitan langsung dengan pekerjaan.
Kelebihan teori dua faktor yang dikemukakan Frederick Herzberg :
1.      Teori Herzberg telah dibaca secara luas dan hanya sedikit manajer yang tidak familiar dengan   rekomendasi – rekomendasinya..
2.      Banyak penerapan dari teori Herzberg yang berhasil.
3.      Penelitian yang dilakukan Herzberg banyak dikembangkan dan berhasil.
4.      Dalam teori Herzberg sangat benar – benar memperhatikan karyawan sehingga dapat diketahui dengan  benar kondisi karyawan
Kelemahan dari teori dua factor oleh Frederick Herzberg :
1.      Prosedur yang digunakan Herzberg terbatasi oleh metodologinya. Bila semuanya berlangsung baik, orang cenderung menganggap itu berkat diri mereka. Sebaliknya, mereka menyalahkan lingkungan luar jika terjadi kegagalan.
2.      Keandalan metodologi Herzberg dipertanyakan. Karena penilai harus melakukan penafsiran, mungkin mereka dapat mencemari penemuan dengan menafsirkan respon tertentu dengan cara tertentu namun di sisi lain memperlakukan respon lain dengan cara yang berbeda.
3.      Tidak digunakannya ukuran total kepuasan apapun. Dengan kata lain, seseorang dapat tidak menyukai bagian dari pekerjaannya, masih berpikir bahwa pekerjaan itu dapat diterimanya.
4.      Teori itu tidak konsisten dengan riset sebelumnya. Teori dua factor mengabaikan variable – variable situasi.
5.      Herzberg mengasumsikan hubungan antara kepuasan dan produktivitas. Tetapi, metodologi riset yang dia gunakan hanya memandang ke kepuasan, bukan produktivitas. Untuk membuat agar riset semacam itu relevan, kita harus mengasumsikan hubungan yang kuat antara kepuasan dan produktivitas.
                                                      
b)     Teori Maslow (Maslow’s Need Hierarchy Theory)
Teori ini dikemukakan oleh A.H. Maslow tahun 1943. Teori ini juga merupakan kelanjutan dari Human Science Theory Elton Mayo (1880-1949) yang menyatakan bahwa kebutuhan dan kepuasaan seseorang itu jamak yaitu kebutuhan biologis dan psikologis berupa material dan nonmaterial.
Dasar Maslow’s Need Hierarchy Theory :
1.   Manusia adalah makhluk sosial yang berkeinginan. Ia selalu menginginkan lebih banyak. Keinginan ini terus menerus, baru berhenti jika akhir hayatnya tiba.
2.   Suatu kebutuhan yang telah dipuaskan tidak menjadi alat motivasi bagi pelakunya, hanya kebutuhan yang belum terpenuhi yang menjadi alat motivasi.
Ada beberapa macam kebutuhan, antara lain :
Ø Physiological Needs
Physiological Needs (kebutuhan fisik = biologis) yaitu kebutuhan yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup seseorang, seperti makan, minum, udara, perumahan dan lain-lainnya. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan fisik ini merangsang seeorang berperilaku dan bekerja giat.

Ø Safety and Security needs
Safety and Security needs (keamanan dan keselamatan) adalah kebutuhan akan keamanan dari ancaman, yakni merasa aman dari ancaman kecelakaan dan keselamatan dalam melakukan pekerjaan.
Ø Affiliation or Acceptance Needs
Affiliation or Acceptance Needs adalah kebutuhan sosial, teman, dicintai dan mencintai serta diterima dalam pergaulan kelompok karyawan dan lingkungannya. Karena manusia adalah makhluk sosial, sudah jelas ia menginginkan kebutuhan-kebutuhan social.
Ø Esteem or Status or Egoistic Needs
Esteem or Status or Egoistic Needs adalah kebutuhan akan penghargaan diri, pengakuan serta penghargaan prestise dari karyawan dan masyarakat lingkungannya. Prestise dan status dimanifestasikan oleh banyak hal yang digunakan sebagai simbol status. Misalnya, memakai dasi untuk membedakan seorang pimpinan dengan anak buahnya dan lain-lain.
Ø Self Actuallization
Self Actuallization adalah kebutuhan aktualisasi diri dengan menggunakan kecakapan, kemampuan, ketrampilan, dan potensi optimal untuk mencapai prestasi kerja yang sangat memuaskan atau luar biasa yang sulit dicapai orang lain. Kebutuhan aktualisasi diri berbeda dengan kebutuhan lain dalam dua hal, yaitu :
v  Kebutuhan aktualisasi diri tidak dapat dipenuhi dari luar. Pemenuhannya hanya berasarkan keinginan atas usaha individu itu sendiri.
v  Aktualisasi diri berhubungan dengan pertumbuhan seorang individu. Kebutuhan ini berlangsung terus-menerus terutama sejalan dengan meningkatkan jenjang karier seorang individu.
Dari uraian di atas, Maslow’s Need Hierarchy Theory ini mempunyai kelebihan dan kelemahan, sebagai berikut :

Kelebihan:
1)      Teori ini memberikan informasi bahwa kebutuhan manusia itu jamak (material dan nonmaterial) dan bobotnya bertingkat-tingkat pula.
2)      Manajer mengetahui bahwa seseorang berperilaku atau bekerja adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan (material dan nonmaterial) yang akan memberikan kepuasaan baginya.
3)      Kebutuhan manusia itu berjenjang sesuai dengan kedudukan atau sosial ekonominya. Seseorang yang berkedudukan rendah (sosial ekonomi lemah)cenderung dimotivasi oleh material, sedang orang yang berkedudukan tinggi cenderung dimotivasi oleh nonmaterial.
4)      Manajer akan lebih mudah memberikan alat motivasi yang paling sesuai untuk merangsang semangat bekerja bawahannya.

Kelemahan :
Menurut teori ini kebutuhan manusia itu adalah bertingkat-tingkat atau hierarkis, tetapi dalam kenyataannya manusia menginginkan tercapai sekaligus dan kebutuhan itu merupakan siklus, seperti lapar-makan-lapar lagi-makan lagi dan seterusnya.

c)      Teori ERG (ERG Theory Alderfer)
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu :
a.       E = Existence (kebutuhan akan eksistensi),
b.      R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan\
c.       G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan)

Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting.
1.      Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow.
2.      Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak.
Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :   
a.       Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;
b.      Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
c.       Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.
Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.   
d)     Teori Motivasi dari Claude S. George
Teori ini menyatakan bahwa seseorang mempunyai kebutuhan yang berhubungan dengan tempat dan suasana di lingkungan bekerjanya, yaitu upah yang layak, kesempatan untuk maju, pengakuan sebagai individu, keamanan bekerja, tempat kerja yang baik, penerimaan oleh kelompok, perlakuan yang wajar, dan pengakuan atas prestasi.

2.      Proses terbentuknya budaya organisasi
Proses terbentuknya budaya dalam organisasi yakni munculnya gagasan-gagasan atau jalan keluar yang kemudian tertanam dalam suatu budaya dalam organisasi bisa bermula dari mana pun, dari perorangan atau kelompok, dari tingkat bawah atau puncak. Taliziduhu Ndraha (1997) menginventarisir sumber-sumber pembentuk budaya organisasi, diantaranya : (1) pendiri organisasi; (2) pemilik organisasi; (3) Sumber daya manusia asing; (4) luar organisasi; (4) orang yang berkepentingan dengan organisasi (stake holder); dan (6) masyarakat. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa proses budaya dapat terjadi dengan cara: (1) kontak budaya; (2) benturan budaya; dan (3) penggalian budaya. Pembentukan budaya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang sekejap, namun memerlukan waktu dan bahkan biaya yang tidak sedikit untuk dapat menerima nilai-nilai baru dalam organisasi.
Setelah mapan, budaya organisasi sering mengabadikan dirinya dalam sejumlah hal. Calon anggota kelompok mungkin akan disaring berdasarkan kesesuaian nilai dan perilakunya dengan budaya organisasi. Kepada anggota organisasi yang baru terpilih bisa diajarkan gaya kelompok secara eksplisit. Kisah-kisah atau legenda-legenda historis bisa diceritakan terus menerus untuk mengingatkan setiap orang tentang nilai-nilai kelompok dan apa yang dimaksudkan dengannya.
Para manajer bisa secara eksplisit berusaha bertindak sesuai dengan contoh budaya dan gagasan budaya tersebut. Begitu juga, anggota senior bisa mengkomunikasikan nilai-nilai pokok mereka secara terus menerus dalam percakapan sehari-hari atau melalui ritual dan perayaan-perayaan khusus.
Orang-orang yang berhasil mencapai gagasan-gagasan yang tertanam dalam budaya ini dapat terkenal dan dijadikan pahlawan. Proses alamiah dalam identifikasi diri dapat mendorong anggota muda untuk mengambil alih nilai dan gaya mentor mereka. Barangkali yang paling mendasar, orang yang mengikuti norma-norma budaya akan diberi imbalan (reward) sedangkan yang tidak, akan mendapat sanksi (punishment). Imbalan (reward) bisa berupa materi atau pun promosi jabatan dalam organisasi tertentu sedangkan untuk sanksi (punishment) tidak hanya diberikan berdasar pada aturan organisasi yang ada semata, namun juga bisa berbentuk sanksi sosial. Dalam arti, anggota tersebut menjadi isolated di lingkungan organisasinya.
Dalam suatu organisasi sesungguhnya tidak ada budaya yang “baik” atau “buruk”, yang ada hanyalah budaya yang “cocok” atau “tidak cocok” . Jika dalam suatu organisasi memiliki budaya yang cocok, maka manajemennya lebih berfokus pada upaya pemeliharaan nilai-nilai- yang ada dan perubahan tidak perlu dilakukan. Namun jika terjadi kesalahan dalam memberikan asumsi dasar yang berdampak terhadap rendahnya kualitas kinerja, maka perubahan budaya mungkin diperlukan.
Karena budaya ini telah berevolusi selama bertahun-tahun melalui sejumlah proses belajar yang telah berakar, maka mungkin saja sulit untuk diubah. Kebiasaan lama akan sulit dihilangkan. Walaupun demikian, Howard Schwartz dan Stanley Davis dalam bukunya Matching Corporate Culture and Business Strategy yang dikutip oleh Bambang Tri Cahyono mengemukakan empat alternatif pendekatan terhadap manajemen budaya organisasi, yaitu : (1) lupakan kultur; (2) kendalikan disekitarnya; (3) upayakan untuk mengubah unsur-unsur kultur agar cocok dengan strategi; dan (4) ubah strategi. Selanjutnya Bambang Tri Cahyono (1996) dengan mengutip pemikiran Alan Kennedy dalam bukunya Corporate Culture mengemukan bahwa terdapat lima alasan untuk membenarkan perubahan budaya secara besar-besaran : (1) Jika organisasi memiliki nilai-nilai yang kuat namun tidak cocok dengan lingkungan yang berubah; (2) Jika organisasi sangat bersaing dan bergerak dengan kecepatan kilat; (3) Jika organisasi berukuran sedang-sedang saja atau lebih buruk lagi; (4) Jika organisasi mulai memasuki peringkat yang sangat besar; dan (5) Jika organisasi kecil tetapi berkembang pesat.
Selanjutnya Kennedy mengemukakan bahwa jika tidak ada satu pun alasan yang cocok dengan di atas, jangan lakukan perubahan. Analisisnya terhadap sepuluh kasus usaha mengubah budaya menunjukkan bahwa hal ini akan memakan biaya antara 5 sampai 10 persen dari yang telah dihabiskan untuk mengubah perilaku orang. Meskipun demikian mungkin hanya akan didapatkan setengah perbaikan dari yang diinginkan. Dia mengingatkan bahwa hal itu akan memakan biaya lebih banyak lagi. dalam bentuk waktu, usaha dan uang.

3.      Mengimplementasikan TQM usaha Outlet Kaos Surabaya
TQM (Total Quality Management) adalah strategi manajemen yang ditujukan untuk menanamkan kesadaran kualitas pada semua proses dalam organisasi.
Konsep TQM (Total Quality Management) merupakan sebuah sistem yang terintegrasi yang menggunakan strategi, data, dan komunikasi efektif .
Kaos yang murah tapi berkualitas
Kaos Surabaya dengan menggunakan bahan cotton combed 24s sangatlah nyaman untuk di pakai. dan menggunakan tinta rubber berkualitas baik sehingga sablonan tidak mudah . dengan menerapkan sistem total quality control sehingga terjaga kualitas produk kami.



Berikut beberapa pemikiran saya soal prinsip TQM usaha outlet kaos Surabaya:
  1. Fokus pada Konsumen. Apapun yang dilakukan atau ACTION apapun yang dijalankan, yang jelas juri akhir yang menentukan apakah yang dilakukan itu meningkatkan kualitas atau tidak adalah konsumen.
  2. Mengedepankan Mutu. Dalam setiap rancangan perencanaan bisnis, pertimbangan kualitas dinomorsatukan.
  3. Satu Visi-Misi. Setiap elemen dalam organisasi bisnis tersebut mengerti misi dan visi yang dituju. Kesatuan misi dan visi ini akan memudahkan untuk bergerak bersama menuju satu tujuan.
  4. Berdasar Fakta. Pengambilan keputusan untuk strategi dalam bisnis didasarkan pada fakta dan bukan hanya karena dugaan semata.
  5. Peningkatan Kualitas Berkelanjutan. Selalu mencari cara bagaimana agar proses bisnis yang dilakukan bisa menjadi lebih efektif.
  6. Pelayanan cepat dan ramah.Kekuatan pelayanan kepada konsumen adalah hal yang sangat penting bagi kami. sehingga kami selalu berusaha memuaskan pelayanan baik itu pelayanan on line maupun off line. Saat ini kami mempunyai team kerja yang baik seiring dengan pengalaman kami di bisnis on line dan off line , sehingga semakin meningkatnya penjualan produk kami, kuncinya karena kami   selalu melakukan training dan evaluasi kerja  kepada karyawan bagian adimistrasi dan costumer service , maka dari itu kami kecepatan dan keramahan pelayanan kami sangat perhatikan secara serius.

4.      Teori X dan Teori Y dari Mc Gregor
Teori prilaku adalah teori yang menjelaskan bahwa suatu perilaku tertentu dapat membedakan pemimpin dan bukan pemimpin pada orang-orang. Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas McGregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para manajer / pemimpin organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para pegawai / karyawan yaitu teori x atau teori y.
A.    Teori X
Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.


B.     Teori Y
Saya rasa saya termasuk generasi teori Y karena saya memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga tidak harus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja.Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori y (positif), Menurut teori x empat pengandaian yang dipegang manajer
1.      Karyawan secara intern tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja
2.      Karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
3.      Karyawan akan menghindari tanggung jawab.
4.      Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang dikaitkan dengan kerja.
Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :
1.      Karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti istirahat dan bermain.
2.      Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran.
3.      Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
4.      Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.
Douglas McGregor menemukan teori X dan teori Y setelah mengkaji cara para manajer berhubungan dengan para karyawan. Kesimpulan yang didapatkan adalah pandangan manajer mengenai sifat manusia didasarkan atas beberapa kelompok asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung membentuk perilaku mereka terhadap karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut.
Ada empat asumsi yang dimiliki manajer dalam teori X.
1.      Karyawan pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa mungkin berusaha untuk menghindarinya.
2.      Karena karyawan tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dipakai, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
3.      Karyawan akan menghindari tanggung jawab dan mencari perintah formal, di mana ini adalah asumsi ketiga.
4.      Sebagian karyawan menempatkan keamanan di atas semua faktor lain terkait pekerjaan dan menunjukkan sedikit ambisi.
Bertentangan dengan pandangan-pandangan negatif mengenai sifat manusia dalam teori X, ada pula empat asumsi positif yang disebutkan dalam teori Y.
1.      Karyawan menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan, seperti halnya istirahat atau bermain.
2.      Karyawan akan berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai berbagai tujuan.
3.      Karyawan bersedia belajar untuk menerima, mencari, dan bertanggungjawab.
4.      Karyawan mampu membuat berbagai keputusan inovatif yang diedarkan ke seluruh populasi, dan bukan hanya bagi mereka yang menduduki posisi manajemen.



Share:

Tuesday, August 9, 2016

dasar-dasar logika

Pengetahuan dan ilmu pengetahuan
  • Hasil proses dari usaha manusia untuk tahu
  • Apa yang dekat atau hasil dari upaya untuk mengetahui sesuatu
  • Upaya untuk mngetahui tersebut merupakan hasil dari : mengenali, menyadari, menginsyafi, mengerti, kepandaian.

Ilmu dan ilmiah
  • Apa?, ontology?, wujud
  • Bagaimana?, epistemology, proses
  • Untuk apa?, aksiologi

Sifat Ilmu
  • Rasional : Proses pemikiran berpegang pada kaidah-kaidah logika
  • Empiris : Pengetahuan yang dapat dibuktikan melalui panca indra
  • Umum : bersifat universal tidak terbatas ruang dan waktu
  • Akumulatif : kumpulan pengetahuan yang sistematis tentang gejala dan fanomena
  • Syarat teknologi : sedikit membutuhkan tenaga manusia
  • Padat modal : banyak membutuhkan uang
  • Padat karya : banyak membutuhkan tenaga kerja

Ontologis : menjawab pertanyaan apa mengenal suatu objek
Epistemologis : menjawab pertanyaan begaimana menghadapi atau mengatasi masalah/gejala
Aksiologis : menjawab pertanyaan untuk apa
Kognitif : menggunakan akal
Rasional : masuk akal

Masalah adalah sesuatu yang merupakan berbedaan antara apa yang seharusnya apa yang diharapkan dan apa yang dikehendaki (Das Sollen ) dengan apa yang senyatanya ada atau terjadi (Das Sein)
Das Sollen : harapan /keinginan
Das Sein : faktanya

Jenis metode ilmiah
  • Observasi / pengamatan
  • Trial dan error (coba-salah)
  • Metode eksperimen
  • Metode statistic
  • Metode sampling
  • Metode berpikir reflektif


Bahasa : digunakan untuk berbagai alas an, tujuan , maupun sasaran
  • Fungsi informative
  • Fungsi praktif
  • Fungsi ekspresif
  • Fungsi performatif
  • Fungsi seremonial
  • Fungsi logis


Term : suatu kata/suatu kumpulan kata yang merupakan ekspresi verbal dari suatu pengertian

Term menurut kuantitas objeknya
  • Singular : menyebut 1 objek individu saja. Misal : mbak berek penjual ayam goring, bakso goring pabean, dll
  • Particular : menyebut sebagian dari jumalah atau sekelompok objek. Contoh : pertokoan pasar atom, diskusi alamiah FIA UHT
  • Universal : kelompok objek tertentu. Contoh : kakek : dokter, pelajar, anak , dll
  • Kolektif : menggambarkan sekelompok objek atau kolektisi objek sebagai sebuah unit. Contoh : TN Indonesia, himpunan mahasiswa program studi, dll

Jenis term menurut asas perlawanan
  • Kontradiktoris : pasangan term dimana term yang satu mempertegas makna yang satu mempertegas makna yang lain. Hidup-mati
  • Kontraris : pasangan term yang menunjukkan sudut-sudut ekstrim diantara objek yang tersusun dalam satu kelas tertentu. Hitam-putih, panas –dingin
  • Relatif : tidak mungkin di mengerti tanpa adanya yang lain sebagai lawannya. Ibu-anak, kakek-cucu, guru –murid, dosen-mahasiswa


Jenis term menurut ketepatan maknanya
  • Univork : term yang hanya menerangkan satu objek tertentu atau dalam arti ersis sama. Rokok, rumah, telpon
  • Ekuivok : makna ganda/jamak yang mempunyai bunyi yang persis sama. Genting, halaman, bunga
  • Analog : dua hal atau lebih dalam arti yang berbeda satu sama lain. Kaki, sayap


Jenis term menurut kodrat referent (objek pendukung)
  • Kongkret : term yang memiliki objek yang mudah diamati. Gunung, gedung, pensil, sepeda
  • Abstrak : objek yang baru dimengerti setelah melalui proses atraksi. Keadilan, kebenaran, kemakmuran, keserasian
  • Nihil : tidka memiliki objek referent term ini bersifat imajinatif, Cyclops, unicorn, peri, kuntilanak

Proposisi A : proposisi negative, universal semua S dan P
Proposisi E : proposisi negative, universal semua S bukan P
Proposisi  I : proposisi afirmatif, partikular sebagian S adalah P
Proposisi O : proposisi negative, partikular, sebagian S bukan P

  1. Onversi : semua petinju bukan bayi, semua bayi adalah bukan petinju. Sebagian penyanyi adalah wanita, beberapa wanita adalah penyanyi
  2. Obversi : manusia adalah makhluk berpikir, manusia bukan makhluk berpikir.Sapi adalah bukan binatang buas, sapi adalah non binatang buas.
  3. Kontraposisi : semua TNI membawa senjata, semua non TNI tidak membawa senjata.Sebagian non mahasiswa adalah bukan dosen, sebagian mahasiswa adalah dosen.
  4. Kontrarik : semua orang di kota itu kaya, semua orang di kota itu tidak kaya
  5. Subalternasi : semua orang di kota itu kaya, sebagian orang dikota itu kaya.Semua orang di kota itu tidak kaya, sebagian orang di kota itu tidak kaya.
  6. Kontradiktorik : semua orang dikota itu kaya, sebagian orang dikota itu tidak kaya.  Semua orang dikota itu tidak kaya, sebagian orang dikota itu kaya


Contoh implikasi logis
  1. Kalau semua manusia bisa bersedih , maka saya pun bisa sedih
  2. Kalau semua dapat khilaf, adam pun dapat khilaf
  3. Kalau semua siswa dapat lulus ujian, maka joko pun lulus ujian
  4. Kalau semua mahasiswa bisa disiplin, maka Rika pun bisa disiplin
  5. Kalau semua perempuan bisa memasak, maka dinda pun bia memasak


Contoh implikasi definisional
  1. Jika bangun geometri ABCD adalah persegi, maka sisi –sisi yang sehadap adalah sejajar dan sama panjang
  2. Jika yusuf seorang purnawirawan, maka ia pernah jadi anggota salah satu angkatan (TNI, atau polri)
  3. Kalau Ifa seorang janda, maka ia pernah menikah (sesuai dengan definisi janda yang dipakai
  4. Jika Jono seorang pegawai swasta, maka ia tentu bekerja disalah satu perusahaan swasta
  5. Jika Dwi seorang TKI, maka ia bekerja diluar negeri


Contoh ilplikasi Empirik
  1. Kalau panas air mencapai 100ocmaka air mendidih
  2. Kalau hujan turun sangat lebat, maka akan banjir


Contoh implkasi Intensional
  1. Kalau aku kau tinggalkan , aku akan bunuh dir (kata jejaka pada kekasihnya;implikasi ini sesuai dengan niat atau keputusan si Jejaka)
  2. Kalau ayah tidak membelikan motor, maka saya akan berhenti sekolah ! “konsekuen” berhenti sekolah “ merupakan keputusan sang anak

Share: